Buka Buku

Wiro Sableng #2: Maut Bernyanyi di Pajajaran

Posted in fiksi, indonesia, novel, silat by halfklingon on 19 Februari 2010

“Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Sinto Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku adalah anak Ranaweleng. Dan aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik seperguruanmu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu!”

Habis berkata begini maka tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma. Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan dengan anak laki-laki dari suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan kenyataan ini!

Episode ke dua Pendekar 212, berkisah tentang pertemuan Wiro Sableng dengan pembunuh ayahnya dan penyebab kematian ibunya. Dibumbui peristiwa usaha kudeta di Kerajaan Pajajaran, novel karya Bastian Tito ini mulai menemukan gayanya yang khas.

Format : MS Reader (lit)
Bahasa : Indonesia

Download

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: